LDberita.id - Batubara, Pemerintah Kabupaten Batu Bara patut berbangga. Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Kategori Pratama resmi dibawa pulang dari Jakarta, Selasa (27/1/2026). Capaian administratif kepesertaan JKN-KIS di atas 95 persen dinilai Pemerintah Pusat sebagai bukti keberhasilan menjamin hak kesehatan masyarakat.
Namun, di saat piagam penghargaan difoto dengan senyum dan jas rapi, sebagian warga di pelosok Batu Bara justru masih harus bertanya, di mana pelayanan kesehatan itu berada.
Penghargaan UHC Pratama diterima langsung oleh Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si. dari Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti di Ballroom JIEXPO Kemayoran. Ini menjadi penghargaan pertama sejak program UHC dilaunching pada 10 Maret 2025.
Secara angka, Batu Bara memang sehat. Secara data, hampir seluruh warga telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS. Namun secara realitas, cerita di lapangan justru berkata lain.
Sejumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) yang dibangun dengan dana negara berdiri rapi namun sunyi, lengkap dengan bangunan permanen tapi tanpa denyut pelayanan. Tidak ada dokter jaga, tenaga kesehatan terbatas, fasilitas minim, dan obat-obatan yang sering kali kosong.
Salah satu contoh paling mencolok adalah Pustu Desa Bulan-Bulan, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, yang dibangun pada tahun 2025. Hingga kini, bangunan tersebut lebih menyerupai monumen proyek ketimbang tempat orang berobat. Kondisi serupa, menurut catatan lapangan, juga terjadi di sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Batu Bara.
“Penghargaan boleh diraih, tapi pelayanan jangan sekadar jadi pajangan,” ujar Rudi Harmoko, S.H., Jumat (30/1/2026),
Ia menegaskan bahwa Universal Health Coverage bukan soal seberapa banyak kartu yang tercetak, melainkan seberapa mudah masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang benar-benar berfungsi saat dibutuhkan.
Ironisnya, ketika warga harus menempuh jarak jauh atau pulang tanpa obat karena Pustu tak beroperasi, daerah justru menerima penghargaan atas keberhasilan menjamin kesehatan masyarakat. Sebuah paradoks antara keberhasilan di atas kertas dan kegagalan di atas tanah.
Penghargaan UHC Pratama sejatinya adalah pintu masuk untuk memperbaiki layanan, bukan garis akhir untuk berpuas diri. Sebab kesehatan masyarakat tidak diukur dari piagam yang dipajang di dinding kantor, melainkan dari apakah rakyat bisa berobat hari ini, di desanya sendiri, tanpa harus menunggu sakit menjadi parah." tandasnya. (Boy)
.jpg)



