Batubara

Dinkes Batu Bara Dituding Gagal, Spanduk Endemik Malaria Dijadikan Kebanggaan

post-img
Foto : Spanduk besar yang diperlihatkan dengan bangga oleh Dinkes P2KB Batu Bara, Spanduk tersebut menyebut Batu Bara sebagai daerah endemis malaria dan objek penelitian

LDberita.id - Batubara, Ketidakmampuan Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Batu Bara dalam menangani masalah kesehatan masyarakat Batu Bara kembali dipetanyakan.

Ramli Sinaga, melontarkan kritikan terhadap dinas tersebut, ia menyebut mereka telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai pelindung kesehatan bagi masyarakat Batu Bara.

Persoalan utamanya adalah terkait maraknya endemik malaria yang masih merajalela di Batu Bara, sementara dinas terkait malah terlihat santai atas kondisi yang menyedihkan ini. Tegas Ramli dalam sebuah pernyataannya, di Lima Puluh Pesisir. Senin (26/08/2024).

Ramli mengecam sebuah spanduk besar yang diperlihatkan dengan bangga oleh kepala Dinkes P2KB Batu Bara. Spanduk tersebut menyebut Batu Bara sebagai daerah endemis malaria dan objek penelitian tahunan.

Bagi Ramli, spanduk ini bukanlah sebuah prestasi, melainkan simbol memalukan dari ketidakmampuan dinas dalam melindungi warganya sendiri.

“Ini bukan prestasi, ini kegagalan bagaimana mungkin mereka bisa merasa bangga sementara malaria terus menghantui masyarakat kita?

Spanduk itu bukan simbol keberhasilan, tapi pengingat dari ketidakmampuan mereka dalam melindungi warganya sendiri,” tegas Ramli

Ia juga melanjutkan, betapa stagnannya program kesehatan di Batu Bara. Sementara masalah lama belum juga terselesaikan, masalah baru terus bermunculan. “Ini adalah cermin dari ketidak mampun dinas terkait.

Dinkes P2KB malah sibuk dengan urusan yang tidak penting, sementara kesehatan masyarakatnya Batu Bara semakin terabaikan. Mereka benar-benar mandul!” tukasnya.

Tidak hanya itu, Ramli juga mempertanyakan mengapa Batu Bara seolah-olah diperlakukan sebagai laboratorium nasional oleh lembaga-lembaga seperti Balai Laboratorium Kesehatan Aceh dan instansi Kementerian Kesehatan lainnya.

Setiap tahun, Batu Bara dijadikan lokasi penelitian dan survei, namun hasilnya tetap nihil, tanpa perbaikan nyata di lapangan. “Batu Bara sepertinya hanya bisa menjadi objek penelitian saja.

Apakah pemerintah kita sudah pasrah dan tak lagi punya nyali untuk bertindak? Ini bukti nyata bahwa mereka lebih memilih diam dan membiarkan warga jadi kelinci percobaan dari pada benar-benar menyelesaikan masalah kesehatan,” sindir Ramli

Sebagai langkah konkret, Ramli minta Pemkab Batu Bara untuk segera mendirikan Laboratorium Daerah. RS PTC diusulkan sebagai pusat laboratorium yang mampu menangani persoalan kesehatan di Batu Bara secara mandiri, tanpa harus selalu menunggu belas kasihan dan hasil survei dari lembaga luar.

“Cukup sudah Kabupaten Batu Bara menjadi objek penelitian mereka! Kita butuh laboratorium sendiri untuk mengatasi masalah kita sendiri.

Libatkan anak-anak Batu Bara dalam mencari solusi, bukan hanya jadi bahan uji coba!” menyuarakan desakan masyarakat yang semakin frustrasi dengan kondisi kesehatan yang memburuk.

“Masyarakat Batu Bara sudah muak dengan janji-janji kosong dan spanduk palsu yang hanya menghiasi dinding kantor dinas. Saatnya tindakan nyata, bukan lagi retorika basi!

Masyarakat kini menantikan bukan sekadar jawaban, tetapi aksi nyata yang bisa membalikkan situasi dan membawa perubahan signifikan bagi kesehatan mereka.

Dinkes P2KB Batu Bara kini dihadapkan pada pilihan bangkit dan bertindak atau tenggelam dalam ketidakpercayaan masyarakatnya sendiri." tandasnya. (Boy)

Berita Terkait