Batubara

Ketika BAZNAS Turun ke Desa, DPRD Batu Bara Masih Sibuk di Gedung Rapat

post-img
Foto : Program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Batu Bara bersama pemerintah kabupaten menyalurkan bantuan Rp15 juta untuk memperbaiki rumah warga prasejahtera

LDberita.id - Batubara, Dibalik deru pembangunan dan rapat-rapat panjang yang digelar di gedung DPRD, masih ada kisah sunyi yang jarang terdengar: jerit warga yang tinggal di rumah reyot, atap bocor, lantai tanah, dan dinding lapuk yang nyaris roboh.

Hari ini, satu keluarga di Desa Pematang Panjang mendapat setitik harapan baru. Melalui program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Batu Bara bersama pemerintah kabupaten menyalurkan bantuan Rp15 juta untuk memperbaiki rumah warga prasejahtera.

Bantuan itu seakan menjadi obat penawar bagi keluarga yang selama ini hanya bisa menunggu hujan berhenti sambil berpelukan di sudut rumah agar tak kebasahan. Namun di balik haru, terselip pertanyaan tajam: di mana peran wakil rakyat, yang katanya berjuang demi rakyat kecil.

Kepala Desa Pematang Panjang, Hamdan, S.E., dengan suara berat menahan emosi, mengungkapkan rasa terima kasih mendalam, sekaligus menyelipkan pesan.

"Kami sangat bersyukur atas bantuan ini, tetapi kami juga ingin bertanya, berapa banyak lagi rumah warga yang harus menunggu, dimana DPRD kita, Bukankah mereka punya tanggung jawab moral dan anggaran yang lebih besar untuk rakyat"

Hari ini satu rumah tersentuh, besok mungkin satu lagi. Tapi bagaimana dengan ratusan rumah lain yang menunggu, Bagaimana dengan keluarga lain yang masih hidup dalam ketidakpastian, mengandalkan bantuan seadanya, padahal ada wakil rakyat yang semestinya menjadi garda terdepan memperjuangkan hak dasar rakyat.

"Kami hampir tidak pernah melihat anggota dewan turun langsung ke rumah-rumah kami. Mereka sibuk membahas program di atas kertas, tapi lupa mengecek lantai rumah kami yang masih tanah. Mereka bicara kesejahteraan, tapi lupa bahwa disini, rakyat masih tidur beralaskan tikar di atas tanah."

Fungsi DPRD sebagai wakil rakyat bukan sekadar membuat perda atau menyetujui anggaran ada fungsi pengawasan yang seharusnya dilakukan dengan turun langsung ke desa, menyapa warga, mendengar keluh kesah, dan memastikan tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam kesengsaraan.

Jika satu rumah bisa dibantu dengan Rp15 juta, lalu di mana anggaran miliaran yang setiap tahun disahkan DPRD Batu Bara mengapa masalah rumah tidak layak huni selalu menunggu belas kasihan BAZNAS atau sumbangan sukarela, bukankah rakyat memilih DPRD agar bisa memperjuangkan hak-hak mereka, bukan sekadar duduk nyaman di kursi empuk sambil memantau rapat.

Kisah bedah rumah di Pematang Panjang ini adalah pesan sunyi sebuah tamparan halus yang seharusnya mengetuk pintu hati para legislator, jika benar mereka adalah “wakil rakyat”, maka rakyat menanti kehadiran, bukan hanya tanda tangan di atas kertas.

Setiap jengkal dinding yang diperbaiki, setiap genteng yang dipasang, adalah simbol harapan rakyat bahwa di luar gedung DPRD, masih ada warga yang menunggu disentuh oleh kebijakan nyata.

Harapan kami sederhana semoga para wakil rakyat lebih banyak turun, bukan hanya saat kampanye, bukan hanya saat menagih suara, turunlah saat rakyat menangis di rumah bocor, saat anak-anak demam karena lantai tanah basah, saat ibu-ibu menimba air hujan yang merembes ke dalam rumah.

Jika satu program bedah rumah bisa lahir dari zakat BAZNAS dan swadaya, maka apa gunanya dana rakyat yang dikelola DPRD." tandasnya. (tim)

Berita Terkait