Batubara

Rudi Harmoko: Mangrove Ditanam, Tapi Laut Dirusak dan Nelayan Sengsara Setiap Hari

post-img
Foto : Ketua Gempal (Gerakan Masyarakat Peduli Alam), Rudi Harmoko, SH

LDberita.id - Batubara, Di tengah kemeriahan Mangrove Culture Festival 2025 yang diselenggarakan Pemkab Batu Bara di Pantai Sejarah, pernyataan ini datang dari aktivis lingkungan sekaligus Ketua Gempal (Gerakan Masyarakat Peduli Alam), Rudi Harmoko, SH. Minggu (20/7/2025),

Menurut Rudi, festival yang bertujuan melestarikan ekosistem pesisir itu justru mengandung ironi besar. Di satu sisi pemerintah menanam mangrove, tapi di sisi lain membiarkan aktivitas galian C ilegal dan kerusakan laut oleh kapal-kapal besar tanpa pengawasan, yang nyata-nyata menghancurkan lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat.

"Kita bukan anti terhadap program penghijauan. Tapi sangat miris melihat inkonsistensi pemerintah. Mangrove ditanam hari ini, tapi galian C tanpa izin justru dibiarkan beroperasi luas di Batu Bara. Itu juga sama-sama merusak lingkungan, bahkan membahayakan masyarakat," tegas Rudi Harmoko, SH.

Rudi menilai, kegiatan seperti Mangrove Culture Festival bisa menjadi program yang positif, jika benar-benar dibarengi dengan keberanian menindak perusak lingkungan lainnya. Namun saat ini, katanya, Pemkab Batu Bara justru lebih sibuk dengan seremoni, sementara kerusakan nyata di darat dan laut tidak ditindak tegas.

"Jangan hanya tanam pohon untuk foto-foto dan tepuk tangan. Sementara di sisi lain, tanah dikeruk galian C ilegal, dan laut dirusak kapal-kapal yang beroperasi tanpa aturan. Ini pelestarian yang setengah hati dan hanya untuk formalitas," ujar Rudi

Ia menekankan bahwa pelestarian ekosistem pesisir tidak bisa dilakukan secara parsial. Mangrove sebagai benteng alami pantai hanya akan efektif jika ekosistem laut di depannya juga sehat dan tidak diganggu oleh aktivitas destruktif.

Rudi juga menyoroti kondisi nelayan Batu Bara yang semakin sulit mendapatkan ikan akibat kerusakan terumbu karang, sedimentasi, dan aktivitas kapal besar yang menjarah habitat laut. Ironisnya, kata Rudi, nelayan kecil ditekan dengan berbagai aturan, sementara kapal besar yang jelas-jelas merusak dibiarkan bebas berlayar.

"Kita dukung pelestarian mangrove, tapi bagaimana bisa mangrove hidup kalau laut terus dirusak," Kalau ikan tak ada, nelayan tetap sengsara. Ekosistem laut dan pesisir itu satu kesatuan, bukan urusan seremonial belaka," ujarnya.

Rudi mendesak Pemkab Batu Bara untuk menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada lingkungan dan masyarakat, bukan sekadar pada proyek-proyek seremoni yang indah di permukaan tapi kosong dalam kebijakan. Ia menantang pemerintah untuk segera menutup dan menindak galian C ilegal di seluruh wilayah Batu Bara dan engontrol aktivitas kapal besar yang merusak dasar laut dan habitat ikan.

Dan Memberdayakan masyarakat pesisir dan nelayan, bukan hanya mengajak mereka menanam pohon setahun sekali.

"Kalau Pemkab benar-benar peduli lingkungan, buktikan dengan tindakan konkret. Hentikan pembiaran terhadap perusakan alam, lingkungan itu bukan untuk difoto, tapi untuk diselamatkan," tutup Rudi. (tim)

Berita Terkait