LDberita.id - Kamu pasti pernah merasakan sebal terhadap suatu hal yang benar-benar menguras emosi. Pekerjaan menumpuk, tapi hasil garapan tidak sesuai keinginan. Lagi-lagi yang kena sasaran adalah anak buah, karena seenaknya mengerjakan tugas tanpa menghiraukan instruksi.
Tipe pekerja yang menganut “yang penting rampung” memang menyusahkan. Tapi apadaya kita si anak buah yang punya anak buah juga. Kudu membesarkan hati, dan siap sedia dievaluasi dan mengevaluasi kesalahan yang selalu bergulir di lingkungan kita.
Sepertinya hal tersebut juga selalu dirasakan seorang @ganjarpranowo selama menjabat sebagai wakil rakyat. Berkali-kali mendapat amanah dalam pemerintahan, membuatnya tahu dan paham tentang mekanisme kinerja di sana. Termasuk penyakit yang sudah hilir-mudik menyapa tubuh pemerintah. Yap dia virus besar negara, namanya korupsi.
Menjadi pejabat yang jujur dan menghindari perbuatan haram tersebut tidak menjamin dia aman. Nyatanya dia harus rela kena getah dari perbuatan kawan-kawannya di DPR. Hanya karena dia tidak mau ikut-ikutan makan uang rakyat, namanya pun ikut terseret.
Mungkin kawannya kala itu berpendapat bahwa Ganjar itu belagu dan naif, karena sok-sokan tidak mau jatah duit bergepo-gepok. Maka untuk memberi pelajaran, dia harus ikut dilumuri kotoran yang dilakukan kawan-kawannya.
Tidak berlangsung lama, karena kebenaran tahu tempatnya. Dia tidak bersembunyi, karena Ganjar pemilik kebenaran itu. Hingga akhirnya banyak bukti mengatakan dia tidak melakukan hal tersebut.
Aktor-aktor yang berakting dengan skenario jahatnya tadi, harus menanggung malu di depan hakim yang mencercanya dengan kalimat menohok. Tentang kejujuran lah, tidak boleh memberikan kepalsuan dalam bersaksi lah, dan wejangan-wejangan lainnya.
Namun semua tidak berakhir cepat, karena nama Ganjar terus digoreng sampai bunyi kriuk korupsi tadi masih terdengar di ruang publik. Anehnya gorengan fitnah itu masih diberi bumbu untuk memprovokasi rakyat.
Ganjar sadar hal tersebut tidak akan serta merta usai, tapi dia membuktikan dalam posisinya sebagai pemimpin Jawa Tengah. Yang namanya gerakan antikorupsi terus dia junjung tinggi-tinggi. Implementasinya hampir dalam semua bidang.
Seperti penerapan kurikulum antikorupsi dalam dunia pendidikan. Yang mudah diserap saja, dalam tindakannya Ganjar mengajak anak-anak di bangku sekolah untuk menempel stiker “Nek Aku Korupsi, Ora Slamet” di mobil-mobil para pejabat.
Ada demo antikorupsi pula yang dikawal Ganjar langsung, dalam event car free day bersama para murid. Tidak berhenti di sana, karena sejak awal menjabat Ganjar sudah mengawali sidaknya memberantas pungli lewat jembatan timbang.
Bukan hanya sekali karena pemantauan terus digencarkan. Tahun 2014 dia menegaskan perbuatan itu, 2015 pun semua berangsur normal dengan tanpa pungli yang dulu membayangi gerak para petugas di sana.
Pun dengan sidak-sidak lain yang dijalankan, dalam proyek pengerjaan infrastruktur seperti jalan, bangunan sekolah, stadion, pasar dan tempat-tempat lain. Semua dilakukan agar hak rakyat tidak dipangkas oleh mereka yang bekerja di lapangan.
Begitu pula dengan peningkatan kualitas SDM dalam sektor pendidikan bagai generasi muda di wilayahnya, harus bersih dari yang namanya pungli. Untuk mewujudkannya, dia juga mengusahakan untuk menembusi sekolah swasta agar tidak ada lagi kejadian penahanan ijazah karena tunggakan SPP yang belum terbayar.
Begitu dalam pemerintah yang dia jalankan. Jika ada KKN yang berseliweran, tak segan-segan membuatnya untuk beraksi. Semua harus ada tindak nyatanya karena dengan begitu pelajaran yang didapat. Jera atau kapok berbuat korupsi dapat menumbuhkan budaya pada diri sendiri, untuk tidak melakukan perbuatan haram itu.
Kalian tahu dengan tindakan viral Ganjar yang membebaskan tugas sebagai kepala sekolah, karena menggalang dana pungli berkedok infak? Banyak pro dan kontra timbul di sana. Bahkan bapakku yang awam dengan keviralan terjadi di media ikut buka suara.
Bapakku bilang Ganjar mungkin akan dibenci kepala sekolah itu. Tiba-tiba dari pendapat bapakku tadi, pikiranku melayang ke statement Ganjar tentang bagaimana sikap tegasnya menggalakkan kegiatan antkorupsi itu memang akan menimbulkan resiko besar.
Karena siapapun mereka yang menyuarakan sikap antikorupsi itu, tandanya ia harus siap menjadi musuh banyak orang. Tegas dan keras tak terbantahkan, statement Ganjar sudah dibuktikan. Bahkan dari dia menjabat sebagai anggota DPR dulu.
Tidak masalah, sama sekali bukan hal yang perlu ditakuti. Berkat sikap tegasnya, warga Jateng banyak menikmati hak-haknya tanpa harus dikurangi oleh orang yang punya kekuasaan di lapangan.
Kekonsistensian Ganjar itulah yang membuatnya kini berdiri menjadi pembicara dalam sebuah acara antikorupsi. Tidak malu dan dengan keberaniannya, Gubernur dua periode itu memaparkan cerita seorang staf yang mengisahkan bagaimana korupsi itu bergulir di lingkungan pemerintah.
Dia ingin cerita yang mengalir ini menjadi satu pelajaran besar, dan motivasi bagi publik untuk memberantas virus bernama korupsi tadi. Tentu semua butuh proses dan cara-cara solutif untuk merealisasikan hal tersebut. Dan semua itu dimulai dari fase nyata seorang pemimpin yang menjadi kepala di barisan depan.
Harus ada yang mencontohi, dan itu tugas dari seorang pemimpin. Itulah mengapa dalam kedudukannya sebagai pemimpin, konsisten bersikap tegas memerangi korupsi menjadi dasar utama untuk menebas pebuatan haram tersebut.
Semua tidak mudah dan juga tidak singkat, tapi yang namanya usaha harus tetap dijalankan. Ya begitulah seharusnya seorang pemimpin yang berani dalam bertindak dan bersikap demi kebaikan bangsa dan negara, terlepas dari semua resiko di belakangnya.
Penulis: Rahman Hartala
.jpg)



