LDberita.id - Batubara, Risalah qurban sering kali hanya dipahami sebagai ritual penyembelihan hewan ternak yang kemudian dagingnya dibagikan kepada yang membutuhkan.
Namun, makna qurban sebenarnya jauh lebih dalam dan luas. Qurban adalah tentang pengorbanan yang sejati, yaitu menyembelih ego dan sifat kebinatangan dalam diri kita.
Ketika Nabi Ibrahim a.s. menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya yang sangat disayangi, Ismail a.s., beliau menunjukkan ketaatan yang luar biasa.
Nabi Ibrahim siap mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai demi ketaatan kepada Allah SWT.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa qurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang keikhlasan dan ketundukan total kepada perintah Allah.
Dalam konteks kehidupan modern, kita juga dihadapkan pada "qurban" yang berbeda. Kita mungkin tidak diminta untuk menyembelih anak, tetapi kita harus siap untuk menyembelih ego, nafsu, dan sifat-sifat buruk yang sering kali mendominasi hati dan pikiran kita. Sifat-sifat seperti keserakahan, keangkuhan, keinginan berlebihan akan pujian, serta nafsu untuk meraih kekuasaan dan kedudukan harus dikorbankan agar hati kita tetap bersih dan dekat dengan Allah.
Sifat-sifat kebinatangan ini adalah segala bentuk perilaku yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.
Ketika kita membiarkan sifat-sifat ini menguasai diri, kita menjadi makhluk yang lebih mementingkan kepentingan duniawi dibandingkan dengan kepentingan ukhrawi.
Oleh karena itu, momen qurban seharusnya menjadi refleksi bagi kita untuk mengidentifikasi dan menyembelih sifat-sifat tersebut dalam diri.
Pengorbanan ini tidaklah mudah. Membutuhkan ketulusan dan keikhlasan yang mendalam. Dalam keseharian, kita sering kali lebih memilih kenyamanan dan kesenangan duniawi daripada perjuangan spiritual.
Teman kita mungkin akan berkata, "Ah, jangan hiraukan itu. Mending kita bikin sate," seperti dalam gurauan seorang sahabat.
Namun, kita harus melampaui godaan-godaan tersebut dan tetap fokus pada tujuan spiritual kita.
Untuk menyembelih kebinatangan dalam diri, kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk berubah. Ini melibatkan introspeksi mendalam dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kita perlu belajar untuk lebih rendah hati, bersyukur, berbagi dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan amal kebaikan.
Setiap kali kita merayakan Idul Adha 1445 H, dan melakukan penyembelihan hewan qurban, mari kita ingat bahwa esensi qurban adalah menyembelih segala bentuk ego dan nafsu yang menghalangi kita dari jalan Allah.
Dengan demikian, qurban menjadi bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga proses berkelanjutan dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Qurban sejati adalah ketika kita mampu mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar, yaitu mencapai keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Mari kita jadikan momen qurban ini sebagai titik awal untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang selalu berusaha mengalahkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri dan menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT." tandasnya. (Boy)
Penulis : Jasmi Assayuti, Ketua PC ISNU Batu Bara
.jpg)




