Sumut

Mengkaji Toleransi Melalui Sastra

post-img
Foto : Oleh: Muharsyam Dwi Anantama Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta.

LDberita - Indonesia adalah negara yang majemuk. Negeri yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika ini, berdiri di atas pondasi perbedaan. Menurut data yang dilansir oleh Badan Pusat Statitstik (BPS) pada tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Jumlah ini begitu luar biasa jika dibandingkan dengan kekayaan suku bangsa negara lainnya. Ditilik dari segi bahasa, Indonesia juga begitu kaya. Negeri ini tercatat memiliki 707 bahasa. Enam agama yang telah diakui oleh Indonesia semakin memperkukuh kemajemukan yang dimiliki oleh Indonesia.
Kemajemukan yang hadir di bumi pertiwi adalah sebuah kekayaan yang tidak dimiliki oleh negara lain. Namun, tak jarang kemajemukan yang ada di Indonesia menjelma petaka. Kemajemukan bisa menjadi sebab sebuah perpecahan. Lebih jauh, perbedaan bisa menjelma menjadi sebuah konflik sosial di dalam kehidupan masyarakat. Sebab, muasal konflik sosial adalah akibat dari meruncingnya sebuah perbedaan.
Jamak kita temui konflik di Indonesia. Dalam negara yang begitu bineka, konflik menjadi hal yang lumrah ada. Mulai dari konflik rasial hingga konflik karena perbedaan agama. Sering pula konflik yang terjadi menumbalkan nyawa manusia.
Sastra sebagai Lembaga Sosial
Dalam dua dekade terakhir, ketegangan dan konflik agama yang terjadi di Indonesia begitu kentara. Konflik itu semakin merajalela dan seolah tak ada habisnya. Insiden kekerasan yang lahir dari perselisihan agama merebak di berbagai tempat. Permasalahan mengenai keyakinan memang begitu kompleks. Berbagai diskursus belum mampu menyelesaikan konflik yang lahir akibat perkara ini.
Karya sastra sebagai salah satu lembaga sosial belum banyak menjadikan peristiwa itu sebagai pijakan cerita. Padahal sesungguhnya karya sastra punya daya transformasi sosial. Karya sastra seyogyanya mampu menjadi corong yang menyuarakan masalah sosial di masyarakat. Pada dasarnya, karya sastra bukanlah dokumen sejarah ataupun tulisan jurnalistik yang menghidangkan sederet fakta secara apa adanya. Namun, anasir dari karya sastra adalah kisah-kisah dalam kehidupan nyata. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Ian Watt dalam “Literatur and Society” dan Teeuw dalam buku “Sastra dan Ilmu Sastra”. Keduanya sepakat bahwa sastra merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat. Kisah-kisah dalam sastra bukanlah bualan belaka, ada kisah nyata yang dapat dirunut jejaknya.
Sebetulnya tercatatbeberapa karya sastra yang telah berperan sebagailembagasosialdancorongkeresahan. Kita lihat puisi-puisi karya Wiji Thukul yang banyak menyuarakan keresahan masyarakat. Atau Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya yang berjudul Saat Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara!. Mereka memperlihatkan kekuatan sastra sebagai media yang mencerahkan dan menggerakkan kesadaran.
Sastra bukan hanya sekadar rajutan diksi-diksi indah. Keelokan sastra tidak hanya berdasar ketepatan dalam memilih kata. Lebih dari itu, sastra menyimpan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai yang penting dan berpengaruh terhadap cara pandang. Sastra harus mampu menjelma sebagai media penangkap dan corong kegundahan masyarakat.
Novel Maryam karya Okky Madasari adalah salah satu karya sastra yang memiliki nafas serupa dengan karya Wiji Thukul maupun Seno Gumira Ajidarma. Novel yang diganjar penghargaan Khatulistiwa Literaty Award ini menganggkat kasus pengusiran warga Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini menarasikan kehidupan Maryam Hayati, seorang perempuan Ahmadi Muda.
Potret Minoritas
“Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan”
Kalimat di atas menjadi jargon dan mewakili keseluruhan isi novel Maryam karya Okky Madasari. Novel yang mengusung topik diskriminasi kaum minoritas di negeri yang berpaham demokrasi. Topik yang sensitif dan tidak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan. Sebab, diskriminasi merupakan permasalahn yang berkaitan dengan eksistensi suatu golongan.
Kisah dalam novel Maryam dirajut oleh serangkaian kejadian yang dialami oleh tokoh utama bernama Maryam. Cerita bermula ketika Maryam kembali kampung halamannya di Lombok. Ia memutuskan pulang untuk menengok orang tuanya setelah belasan tahun pergi dan putus komunikasi. Hal itu terjadi sebagai pemberontakan Maryam atas paksaan dari orang tuanya untuk menikah hanya dengan lelaki Ahmadi.
Rasa haru dan sesal yang berkepanjangan terus mendera Maryam. Ia merasa telah menyakiti hati kedua orang tuanya. Kepulangannya merupakan sebuah cara untuk menebus rasa bersalah dan penyesalan dirinya kepada orang tuanya. Dengan menggunakan flashback, Maryam mengurai masa lalunya. Menceritakan alasan mengapai ia memilih menyisih dan keluar dari koridor ajaran orang tuanya. Rasa takut dialeniasi akibat dirinya seorang Ahmadi menjadi sebab dan alasan terkuatnya. Namun, hal itu luluh ketika rasa bersalah terhadap orang tuanya semakin menggebu-gebu.
Maryam mendapati kampung halamannya tak lagi seramah dulu saat ia pergi. Warga kampung yang dulu mengenalnya kini antipati dan tak mau berhubungan dengannya. Bahkan ternyata, keluarganya sudah tak lagi ada. Mereka terusir dari kampung halamannya. Rumah yang dulu di tempati Maryam dan keluarga kini di tempati Jamal,  mantan pembantu bapaknya.
Penyebab dari pengusiran terhadap keluarga Maryam adalah perbedaan keyakinan. Keyakinan yang di anut oleh Maryam dan keluarganya dianggap oleh sebagian warga sebagai ajaran sesat. Sebagai kaum minoritas, keluarga Maryam tak punya daya untuk melawan. Dengan berat hati mereka meninggalkan kampung halaman yang penuh akan memori.
Tema novel Maryam sangatlah menarik. Okky Madasari berhasil mengabadikan perasaan tokoh-tokohnya yang mengalami diskriminasi dan pengusiran. Ia memperlihatkan kekejaman yang terjadi saat perbedaan mesti diatasi dengan kekerasan dan penyingkiran. Memotret fragmen orang-orang yang menderita karena berbeda dengan kebanyakan lainnya.
Namun, Okky juga cukup berimbang dalam melukiskan karakter keagamaan. Ia tidak cenderung memihak pada Ahmadiyah maupun kelompok penentangnya. Okky menggambarkan kelompok Ahmadiyah sebagai kelompok yang eksklusif. Eksklusifitas Ahmadiyah digambarkan Okky Madasari melalui perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka cendrung menyisih dari kelompok lainnya, terutama dalam hal kegiatan ibadah. Mereka hanya salat dan mengaji di masjid sendiri.
Kisah yang dianyam oleh Okky Madasari begitu menggugah simpati dan empati.Novel yang diangkat Okky dari kisah nyata ini menggaungkan kisah dan teriakan dari orang-orang yang selama ini terbungkam. Orang-orang minoritas yang termarjinalkan. Selain itu, novel ini seolah mewanti-wanti kita untuk lebih mengedepankan sifat toleransi.Mengajak kita untuk bersikap arif dalam menyikapi kemajemukan. Membuat kita berpikir seribu kali untuk bersikap angkuh dan keras terhadap perbedaan.

(Artikel ini ditulis untuk Mengikuti Lomba Penulisan Artikel bertema Bung Karno yang diadakan oleh DPD PDI Perjuangan Sumut dalam rangka Memperingati Bulan Bung Karno).

Berita Terkait