Sosial

DITINGGALKAN ATAU DIKEMBANGKAN? PAPAN TULIS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

post-img
Foto : Fernando De Napoli Marpaung, SS,.M.Pd

LDberita.id - Menciptakan atau mengembangkan ide, produk atau jasa yang memiliki nilai tambah dan berbeda dari yang sudah ada sebelumnya merupakan bagian dari sebuah inovasi. Inovasi dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam berbagai bidang, seperti pengembangan kurikulum, teknologi pendidikan, strategi pengajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran (Kogabayev & Maziliauskas, 2017). Inovasi erat kaitannya dengan pengembangan akan sesuatu hal. Tujuan pengembangan atau inovasi di bidang pendidikan adalah untuk meningkatkan standar pendidikan dengan mengatasi inefisiensi infrastruktur pendidikan yang ada dan menumbuhkan suasana yang lebih produktif, imajinatif, dan kolaboratif (Taylor, 2017).

Inovasi dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar, sehingga hasil belajar yang dicapai lebih optimal dan berkesinambungan. Inovasi pembelajaran memberikan banyak kemudahan dalam proses pengajaran, khususnya siswa dan guru dalam penyampaian materi pelajaran (Setyandari, 2015).

Sebagai seorang pendidik, seorang guru harus mampu memanfaatkan semua media sebagai sumber belajar. Kreatifitas seorang guru dalam memanfaatkan apa saja yang dapat dijadikan media pembelajaran demi tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sangatlah diperlukan saat sekarang ini.

Dalam menggunakan media sebagai sumber belajar, seorang guru harus mempertimbangkan faktor-faktor penting seperti tujuan pembelajaran seperti yang disampaikan sebelumnya, ketersediaan sumber daya, mudah dipahami dan menarik perhatian siswa, kreatif dan inovatif, serta kemampuan teknologi (Wen, 2017). Dengan memanfaatkan media dengan baik, guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkaya pengalaman belajar siswa (Rahim et al., 2022). Perhatian siswa dapat diarahkan pada konten pembelajaran melalui penggunaan media pembelajaran yang merupakan pendamping proses dalam kegiatan belajar mengajar (Saufi & Rizka, 2021).

Hal ini memungkinkan pikiran siswa menjadi terpusat pada materi pembelajaran. Istilah “media pembelajaran” mengacu pada alat atau bahan yang digunakan oleh pendidik untuk membantu siswa dalam memahami dan memperoleh pengetahuan yang diajarkan dengan lebih baik (Tafonao et al., 2020). Salah satu media tradisional atau konvensional yang dapat dijadikan inovasi ataupun pengembangan adalah media papan tulis.

Papan tulis seringkali menjadi icon suatu kelas, namun sayangnya sering tidak digunakan dengan baik. Banyak siswa yang hanya melihatnya sebagai hiasan atau tempat mencorat-coret tanpa tujuan yang jelas. Hal ini tentu sangat disayangkan, karena sebenarnya papan tulis memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Papan tulis dapat digunakan untuk menyampaikan informasi secara visual, memperjelas penjelasan guru, memfasilitasi diskusi antar siswa dan sebenarnya masih banyak lagi hal lainnya bilamana dikembangkan dengan baik (Saputra, 2009). Dengan memanfaatkan papan tulis dengan baik, siswa dapat lebih mudah memahami materi pelajaran yang diajarkan dan lebih aktif dalam proses pembelajaran. Namun, agar papan tulis dapat dimanfaatkan dengan baik, tentunya ada beberapa cara yang harus dipelajari. Guru, dosen atau pengajar harus memastikan papan tulis selalu bersih dan terawat. Jangan biarkan papan tulis terlihat kotor atau penempatan yang tidak sesuai dan baik, karena dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam hal visual.

Selain itu, guru juga perlu mempertimbangkan dan memperhatikan penggunaan huruf yang jelas dan mudah dibaca siswa, serta menghindari tulisan yang terlalu kecil atau terlalu besar. Penggunaan warna pada papan tulis juga dapat memudahkan siswa dalam membedakan informasi penting dan tidak penting, guru juga dapat menggunakan papan tulis untuk membuat diagram, grafik, atau gambar yang dapat memperjelas penjelasan materi pelajaran (Fitra Nur Faudzy et al., 2021). Hal ini akan membantu siswa lebih memvisualisasikan materi dalam pembelajaran.

Pengajar juga dapat menggunakan papan tulis untuk memfasilitasi diskusi antar siswa. Misalnya dengan menuliskan pertanyaan atau topik diskusi di papan tulis, atau meminta siswa menuliskan jawaban atau idenya di papan tulis. Hal ini dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Dengan mengikuti beberapa cara tersebut, maka keberadaan papan tulis di kelas akan lebih bermanfaat dan membantu dalam kegiatan belajar mengajar. Tentunya hal ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Penggunaan papan tulis atau whiteboard/blackboard merupakan bagian yang sangat vital yang sudah lama digunakan oleh para guru. Meski pada awalnya papan tulis identik dengan kapur, seiring dengan perkembangan zaman penggunaan marker atau spidol lebih banyak digunakan saat ini, namun masih ada juga beberapa perguruan yang menggunakan kapur khususnya d tingkat dasar dan menengah. Penggunaan power point dan teknologi lainnya mengurangi penggunaan papan tulis, namun papan tulis merupakan elemen yang sangat diperlukan di dalam kelas. permasalahan saat ini adalah bagaimana memaksimalkan media dalam pembelajaran di kelas sehingga menghasilkan sesuatu yang inovatif dan tentunya bermanfaat.

Sebagai contoh bagaimana memaksimalkan papan tulis dalam pembelajaran bahasa Inggris dalam meningkatkan kosa kata siswa. Di Jepang, satu pelajaran setara dengan 50 menit, setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan hingga penutup, apa yang dikatakan guru dalam 50 menit tersebut? dapat dilihat pada papan tulis, papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran (Herlant, 2016). 

Dari contoh diatas dapat diartikan bahwa media papan tulis bukanlah media yang usang, namun dengan sebuah pengembangan atau inovasi pengajar dapat mengoptimalkan media tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran. Inovasi ini juga dapat membantu pengajar yang memiliki minim fasilitas di sekolah ataupun perguruan tinggi. Di tambah lagi terdapat pelajaran-pelajaran yang keoptimalannya pengajarannya harus menggunakan media ini, seperti matematika, kesenian dan lainnya termasuk juga pengajaran bahasa di tingkat dasar.

Kemajuan teknologi, perkembangan model, metode dan media masih memerlukan media ini dalam pengajaran, tinggal bagaimana seorang guru atau pengajar mengkolaborasikan kemajuan dan perkembangan tersebut dengan media papan tulis yang kita sebut ikonik tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Memang pada saat sekarang ini  pengembangan papan tulis sudah ada bentuk digital atau elektronik yang kita kenal ‘digital whiteboard’ sudah tersedia didalam beberapa fitur LMS (Learning Management System) atau ‘Moodle’ yang menyediakan berbagai fitur yang mendukung pengajaran dan pembelajaran online. Moodle juga mendukung berbagai jenis konten pembelajaran, seperti teks, gambar, video, dan file multimedia lainnya. Namun untuk kelas-kelas konvensional penggunan media papan tulis secara nyata bukan visual lebih dapat mudah dipahami oleh langsung oleh siswa.

Sebagai penutup dan kesimpulan, dalam konteks pengajaran di kelas, penggunaan papan tulis sebagai media pembelajaran tetap relevan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Meskipun perkembangan teknologi memberikan alternatif digital yang lebih canggih, papan tulis tetap menjadi ikonik dan efektif dalam menyampaikan informasi, memperjelas penjelasan, dan memfasilitasi siswa dalam strategi pembelajaran atau materi-materi tertentu di dalam pelajaran. Penting bagi pendidik untuk mengoptimalkan penggunaan papan tulis konvensional dan menggabungkannya dengan kemajuan teknologi dalam pengajaran dengan media papan tulis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik, sehingga media ini tetap memiliki peranan yang penting ditengah kemajuan jaman.

Penulis Adalah: Mahasiswa Program Studi S-3 Ilmu Keguruan Bahasa Universitas Negeri Padang

Berita Terkait