LDberita.id - Batubara, Kelulusan seorang kepala daerah dari jenjang pendidikan doktoral tentu menjadi kabar yang patut diapresiasi. Bupati Batu Bara baru saja menuntaskan pendidikan Program Doktor (S3) Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dengan nilai 98,08 dan predikat A+.
Prestasi akademik tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun di tengah euforia keberhasilan meraih gelar tertinggi dalam dunia akademik, masyarakat Batu Bara justru dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat mendasar: jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki.
Bagi sebagian masyarakat, gelar doktor memang membanggakan. Tetapi bagi petani yang setiap hari mengangkut hasil panennya, bagi anak-anak yang berangkat sekolah sejak pagi, dan bagi warga desa yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada akses jalan, yang mereka butuhkan bukan sekadar gelar, melainkan perhatian nyata terhadap persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Pengamat sosial Batu Bara, Ramli Sinaga, menilai bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak pernah ditentukan oleh panjangnya gelar akademik di belakang nama, tetapi oleh sejauh mana kebijakan yang diambil mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Bagi masyarakat kecil, gelar bukan hal yang utama. Yang mereka rasakan setiap hari adalah kondisi jalan yang rusak, akses ekonomi yang terganggu, dan kesulitan anak-anak menuju sekolah. Itu yang menjadi ukuran nyata keberhasilan seorang pemimpin,” tegasnya.
Salah satu contoh yang paling sering dikeluhkan warga adalah kondisi infrastruktur jalan di Kecamatan Lima Puluh Pesisir.
Sejumlah ruas jalan di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah, berlubang dan bergelombang.
Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan. Sebaliknya, saat kemarau, debu tebal beterbangan dan mengganggu aktivitas warga.
Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan berkendara. Bagi masyarakat desa, jalan adalah urat nadi kehidupan.
Petani membutuhkan jalan yang layak untuk membawa hasil pertanian mereka ke pasar. Ketika jalan rusak, biaya transportasi meningkat, kendaraan cepat rusak, dan distribusi hasil panen menjadi terhambat. Pada akhirnya, kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap penghasilan mereka.
Tidak hanya itu, anak-anak yang hendak menempuh pendidikan juga harus menghadapi medan jalan yang tidak mudah setiap hari. Banyak di antara mereka harus melewati jalan berlubang dan berlumpur demi sampai ke sekolah.
Ironisnya, di tengah berbagai pidato tentang pembangunan dan kemajuan daerah, keluhan paling mendasar masyarakat seperti akses jalan yang layak justru masih menjadi persoalan yang berulang dari tahun ke tahun.
Bagi masyarakat Batu Bara, harapan mereka sebenarnya sederhana, pemimpin yang hadir untuk menyelesaikan persoalan paling dasar rakyatnya.
Gelar akademik memang menunjukkan kapasitas intelektual seorang pemimpin. Namun bagi masyarakat desa, ukuran keberhasilan seorang kepala daerah jauh lebih sederhana dan nyata, jalan yang diperbaiki, akses ekonomi yang lancar, serta anak-anak yang dapat berangkat sekolah tanpa harus bergulat dengan lumpur dan debu setiap hari.
Karena pada akhirnya, bagi rakyat kecil di Batu Bara, pembangunan tidak diukur dari seberapa tinggi gelar seorang pemimpin, tetapi dari seberapa jauh roda kendaraan mereka bisa melintas di jalan yang layak." tandasnya. (tim)
.jpg)




