LDberita.id - Batubara, Di balik kesuksesan Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, sebagai lumbung cabai Sumatera Utara, terdapat perjalanan panjang penuh tantangan dan inovasi. Program BABE LUCU (Batu Bara Bersama Lubuk Cuik) yang diinisiasi oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) pada tahun 2020 telah menjadi katalis perubahan ekonomi desa ini. Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, program ini juga melahirkan sistem pertanian modern yang berkelanjutan serta membuka jalan bagi ekspansi pasar hingga ke tingkat nasional.
Babak Awal: Dari Ketidakpastian Menuju Solusi
Sebelum tahun 2020, para petani di Desa Lubuk Cuik menghadapi berbagai persoalan klasik di sektor pertanian cabai, seperti harga yang fluktuatif, hasil panen yang tidak maksimal, keterbatasan akses pasar, dan sistem irigasi yang kurang memadai. Meskipun dikenal sebagai daerah penghasil cabai, potensi desa ini belum terkelola dengan baik.
Menjawab tantangan tersebut, INALUM meluncurkan Program BABE LUCU sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Program ini bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga mencakup pendampingan teknis, penguatan infrastruktur pertanian, serta pengembangan inovasi berbasis komunitas.
Transformasi: Perjalanan Tiga Tahun Menuju Keberlanjutan
Dalam tiga tahun pertama (2020–2023), dampak positif BABE LUCU mulai terlihat jelas. Lebih dari 400 petani terlibat dalam program ini, menghasilkan akumulasi ekonomi hingga Rp42,6 miliar per tahun. Produksi cabai meningkat pesat dengan pemanfaatan lahan 85 hektare, yang terdiri dari:
34 hektare lahan produktif dengan optimalisasi irigasi yang meningkatkan produktivitas hingga 40%.
6,8 hektare lahan baru yang dikembangkan secara bertahap, dengan kontribusi ekonomi sebesar Rp550 juta per tahun.
Tak hanya meningkatkan hasil panen, program ini juga menciptakan rantai nilai industri berbasis cabai, meliputi:
Diversifikasi produk, seperti cabai kering, saus cabai, dan abon cabai yang memiliki nilai tambah tinggi.
Sistem distribusi modern, mempermudah pemasaran hasil panen dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak.
Pembangunan sistem irigasi teknis yang lebih efisien juga menjadi salah satu faktor utama keberhasilan program ini. Dengan pemanfaatan air permukaan dari aliran sungai, petani kini tidak lagi bergantung pada pola hujan, sehingga produktivitas tetap stabil sepanjang tahun.
Era Baru: Digitalisasi dan Ekspansi Pasar
Memasuki tahun 2024, BABE LUCU semakin berkembang dengan mengadopsi teknologi pertanian digital. Dengan bantuan sensor tanah dan aplikasi pemantauan cuaca, petani dapat mengoptimalkan penggunaan air, pupuk, dan pestisida secara lebih efisien.
Dalam aspek pemasaran, program ini berhasil membuka akses ke pasar regional dan nasional. Produk olahan cabai kini telah memasuki pasar retail modern, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang tertarik menjadikan Lubuk Cuik sebagai pusat riset pertanian berkelanjutan.
INALUM juga melibatkan tim sipil dan lingkungan dalam perbaikan infrastruktur pertanian serta tim media dan humas untuk mendukung promosi produk. Langkah ini semakin memperkuat posisi BABE LUCU sebagai model ekonomi berbasis pertanian yang inovatif.
BABE LUCU 2025: Membangun Desa Mandiri dan Berdaya Saing
Di tahun 2025, BABE LUCU telah melampaui target awalnya. Desa Lubuk Cuik tidak lagi hanya dikenal sebagai sentra cabai, tetapi telah bertransformasi menjadi desa percontohan kemandirian ekonomi di Sumatera Utara.
Petani kini lebih percaya diri menghadapi fluktuasi harga pasar, karena mereka telah memiliki mekanisme diversifikasi produk dan strategi pemasaran yang lebih kuat. Kesuksesan ini juga menginspirasi desa-desa lain di Batu Bara untuk mengembangkan potensi lokal mereka.
Bahkan, pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat mulai menjajaki kemungkinan memperluas program BABE LUCU ke sektor pertanian lain, seperti hortikultura dan peternakan berbasis komunitas.
Masa Depan: Menuju Ekonomi Berkelanjutan dan Inklusif
VP CSR INALUM, Ali Hasian, menegaskan bahwa BABE LUCU bukan sekadar program CSR, tetapi sebuah gerakan ekonomi mandiri yang terus berkembang.
"Kami ingin memastikan bahwa program ini bukan hanya berdampak sementara, tetapi menjadi ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Kami optimis Desa Lubuk Cuik akan terus berkembang menjadi pusat pertanian modern yang dapat bersaing di tingkat nasional bahkan global," ujar Ali.
Dengan sejarah perjalanan yang penuh inovasi, kerja keras, dan kolaborasi, BABE LUCU kini menjadi bukti nyata bahwa investasi di sektor pertanian dapat menciptakan perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan.
Dari sebuah desa kecil di Batu Bara, kini Lubuk Cuik telah menjadi model keberhasilan pertanian yang mampu menginspirasi banyak daerah lain di Indonesia. Terimakasih Buat BABE LUCU. (Boy)
.jpg)



