logo
logo
Oleh: Josua Sirait (Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas Medan)

LDberita.id - Tanggal 1 Juni lalu, Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Seperti beberapa tahun sebelumnya, peringatan Hari Lahir Pancasila masih diwarnai dengan berbagai dinamika berbangsa dan bernegara. Satu diantaranya adalah dinamika tentang kebhinnekaan (keberagaman) bangsa.
Peringatan Hari Lahir Pancasila dapat dimaknai sebagai momentum yang baik bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada siapapun di seluruh dunia, betapa kebhinnekaan yang ada di Indonesia saat ini masih menjadi kekuatan besar bagi seluruh rakyat untuk melaksanakan pembangunan di berbagai bidang.
Sedangkan keberadaan Pancasila itu dimaknai sebagai perekat kebhinekaan di Indonesia yang mampu menyatukan masyarakat dari beragam suku, agama, ras, kepercayaan, dan budaya sejak zaman penjajahan hingga kini. Dan dengan Pancasila pula, rakyat Indonesia hidup berdampingan secara rukun dan harmonis.
Ujian Kebhinnekaan
Keberadaan suku, agama, ras, kepercayaan, dan budaya di Indonesia yang beragam adalah fakta bahwa wajah Indonesia adalah wajah kebhinnekaan. Bahwa Indonesia terbentuk, tumbuh dan berkembang dari kebhinnekaan tidak dapat dibantah lagi. Kebhinnekaan ini juga yang menjadi kekuatan bagi para pejuang kemerdekaan untuk melawan penjajah dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi, tak dapat dipungkiri, dalam beberapa tahun terakhir kebhinnekaan Indonesia sedang menghadapi ujian.
Ujian kebhinnekaan ini membuat rakyat Indonesia terkotak-kotak dalam sesuatu yang homogen. Sebagai contoh, sekelompok golongan hanya menganggap sukunya yang benar, hanya menganggap agamanya yang pantas masuk sorga, atau hanya budayanya saja yang dianggap paling berbudaya dan mencerminkan Indonesia.
Mungkin kita tak akan lupa dengan konflik SARA yang terjadi kerusuhan poso di Poso, Sulawesi Tengah tahun 1998-2001 lalu. Konflik ini melibatkan kelompok Muslim dan Kristen. Konflik ini menimbulkan kerusuhan hingga provokasi dan selebaran yang menghasutkan dan membuat konflik ini semakin berlarut-larut. Hingga konflik mereda, berdasarkan catatan yang dikutip dari tempo.co, konflik ini menyebabkan 600 rumah terbakar, 60 ribu warga mengungsi dan jumlah korban jiwa yang tak sedikit.
Tak hanya di Poso, konflik bernuansa agama terjadi di Aceh Singkil tahun 2015. Gereja HKI Suka Makmur di Aceh Singil dibakar. Bukan itu saja, beberapa gereja lain juga ikut dibakar. Ada juga yang dibongkar karena tidak memiliki izin. Jika dirunut lebih mendalam lagi, ada banyak konflik-konflik bernuansa SARA yang terjadi di Indonesia.
Berdasarkan catatan Imparsial, khusus untuk kasus intoleransi atau pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia, selama 2019 terdapat 31 kasus. Sebanyak 28 kasus di antaranya dilakukan oleh warga setempat yang dimobilisasi oleh organisasi atau kelompok agama tertentu. Jenis-jenis pelanggarannya beragam, mulai dari pelarangan pendirian tempat ibadah, larangan perayaan kebudayaan etnis, perusakan tempat ibadah hingga penolakan untuk bertetangga terhadap yang tidak seagama. Belum lagi ketika Pilkada dan Pemilu tiba. Maka suasana politik yang sudah panas, akan semakin memanas karena “dibumbui” dengan isu SARA.
SARA terlihat seperti mainan oleh para politikus. Mereka bergaul dengan para pemimpin agama, menampilkan sisi ketaatan beragama hanya untuk mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia demi memenangkan calon yang ada. Hal ini diperparah dengan sikap saling menjatuhkan, saling menghina, saling menyindir, hingga adu berita bohong demi mencapai keinginan pribadi dan kelompoknya.
Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan mendalam bagi bangsa Indonesia. Apalagi sejarah menunjukkan Indonesia tidaklah berdiri dari satu bangsa yang homogen. Selain ada penduduk asli Indonesia, bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang seiring dengan kehadiran bangsa-bangsa lain dari berbagai ras yang masuk ke Indonesia seperti: Melayu, Cina, India, Arab dan lain-lain.
Agama dan kepercayaan di Indonesia pun sangat beragam. Selain enam agama resmi yang diakui: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, Indonesia juga kaya akan puluhan agama tradisional (leluhur) yang masih hidup dan berkembang di Indonesia diantaranya: Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten), agama Jawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat), Buhun (Jawa Barat), Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Parmalim (Sumatera Utara), Kaharingan (Kalimantan), Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara), Tolottang (Sulawesi Selatan), Wetu telu (Lombok), Naurus (pulau Seram, Maluku), Marapu (Sumba) dan lain-lain.
Cita-cita Soekarno
Sebagai pendiri bangsa yang ikut menggagas lahirnya Pancasila, Soekarno bercita-cita agar kehidupan rakyat Indonesia menerminkan nilai-nilai yang ada dalam sila Pancasila yakni: Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kemasyarakatan, dan Keadilan. Lima sila ini pun lahir dengan berlandaskan kebudayaan, karakter dan tradisi-tradisi yang bersumber dari masyarakat Indonesia. Fakta bahwa masyarakat Indonesia menjunjung nilai kebersamaan membuat Soekarno merangkum Pancasila menjadi nilai gotong royong itu sendiri.
Berangkat dari sila-sila Pancasila ini dan jika dikaitkan dengan ujian kebhinnekaan yang terjadi di Indonesia saat ini, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk tidak mampu hidup berdampingan dengan rukum dan harmonis, memiliki perbedaan di berbagai bidang. Sebaliknya perbedaan-perbedaan yang ada akan melahirkan sikap menghargai dan saling memahami antara satu dengan lainnya. Tidak menganggap perbedaan sebagai sebuah persaingan dalam segala aspek.
Soekarno pernah berkata “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Artinya adalah, Indonesia telah bebas dari penjajah, namun Indonesia belum benar-benar merdeka dalam kehidupan bermasyarakat. Satu diantaranya adalah tidak merdeka dalam memaknai kebhinnekaan yang ada. Hingga akhirnya Indonesia masih harus terus berjuang menggapai cita-cita para pejuang dan rakyat Indonesia.
Merawat Kebhinnekaan
Indonesia sebagai Negara yang berbhinneka adalah fakta yang tak dapat diutak atik lagi. Tugas kita sekarang adalah merawat kebhinnekaan ini agar menjadi semakin kuat untuk ke depannya. Merawat kebhinekaan Indonesia merupakan kewajiban seluruh elemen bangsa dari berbagai latar belakang berbasis suku, etnis, agama, ras, kepercayaan, dan budaya. Maka kita semua harus mengeluarkan segenap upaya yang efektif untuk mencegah dan menangani setiap ancaman atas kebhinekaan tersebut.
Lalu upaya apa yang dapat kita lakukan? Sangat sederhana. Kita hanya perlu membumikan Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, setiap elemen masyarakat, harus terbiasa membangun rasa toleransi dari hal-hal kecil seperti memberikan ucapan selamat hari besar keagamaan bagi teman yang tidak seiman, termasuk menghargai perbedaan pendapat dan pandangan setiap warga.
Kedua, para tokoh dan pemuka agama sebagai penjaga spiritualitas keagamaan harus memastikan bahwa pendidikan dan pengajaran keagamaan berjalan dengan efektif dalam kerangka membentuk kepribadian bangsa, tidak memecah-belah antar elemen bangsa, dan melahirkan sentimen keagamaan.
Ketiga, pemerintah sebagai pengelola negara harus mengambil tindakan yang tepat dna professional dalam merespons setiap upaya yang mengancam kebhinekaan dan memecah belah antar elemen bangsa.
Keempat, para politisi diharapkan tidak menggunakan cara politisasi agama, kampanye hitam, dan syiar kebencian berbasis SARA dalam setiap aktivitas politik.
Berpolitiklah dengan santun, cerdas, dan menghargai kebhinnekaan Indonesia. Kita harus menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada di sekitar kita. Perbedaan yang ada di Indonesia bukanlah alat pemecah belah, melainkan alat pemersatu bangsa. Keberagaman Indonesia adalah kekayaan luar biasa yang tidak semua bangsa di dunia yang memilikinya. Mari kita jaga bersama.

Artikel ini ditulis untuk mengikuti lomba penulisan artikel dalam rangka memeriahkan Bulan Bung Karno oleh DPD PDI Perjuangan Sumut.

Top